Polisi selidiki ‘siapa yang menyuruh’ teriakan ‘jihad’ dalam azan, MUI tekankan teks azan tak boleh diubah

Polisi selidiki 'siapa yang menyuruh' teriakan 'jihad' dalam azan, MUI tekankan teks azan tak boleh diubah
4 Desember 2020, 12: 42 WIB

Diperbarui dua jam yang lalu

Kepolisian Jawa Barat padahal mendalami kemungkinan adanya “perintah sebab pihak tertentu” dalam kasus ‘ajakan jihad’ melalui perubahan lafal bang yang disebarkan di media sosial.

Dugaan itu didasarkan bahwa ‘ajakan jihad’ melalui azan itu dikerjakan secara serentak, kata seorang pejabat Polda Jabar, seperti dilaporkan wartawan di Bandung, Yulia Saputra buat BBC News Indonesia.

“Ini lagi didalami, karena yang kita khawatirkan pada satu hari serentak (video azan), ada di Jabar maupun daerah lain. Nah, tentunya Jawa Barat akan fokus untuk menyelidiki sapa yang menyuruh dan siapa yang memviralkan, ” kata Kabidhumas Polda Jawa Barat, Kombes Pol. Erdi Adrimulan Chaniago, Jumat (04/12).

Sebelumnya, Polda Metro Jaya telah menangkap setidaknya dua orang yang diduga per mengubah dan menyebarkan lafal bang dari ‘hayya’lash sholah’ menjadi ‘hayya alal jihad’.

Mereka dianggap sudah menimbulkan kebencian atau permusuhan di masyarakat.

Berdasarkan keterangan salah-seorang tersangka, Polda Metro Jaya mengeklaim bahwa mereka mengaku mendapatkan video azan menyimpan ‘ajakan jihad’ itu dari perkumpulan WhatsApp Forum Muslim Cyber One (FMCO News).

Terhadap pengakuan tersebut, Polda Jabar mengaku “masih mendalaminya”, kata Erdi. Sejauh ini Polres Majalengka telah memeriksa tujuh karakter terduga pelaku ‘azan jihad’.

“Penyidik juga akan mencari apakah ada yang menyuruh dan sebagainya, dicek handphone dan sebagainya. Jadi itu tunggu dulu, ” tambah Erdi. Tujuh orang terduga melafal ‘azan jihad dilaporkan meminta maaf.

Erdi menambahkan, polisi menaruh perhatian istimewa pada siapa yang pertama kali memviralkan video tersebut. Beberapa karakter telah dipanggil untuk menjalani penjagaan yang dijadwalkan pekan depan.

“Jadi sekali lagi penyidik dari Polda Jabar dan penyidik dari Polres Majalengka akan menyelidiki siapa yang memviralkan dan siapa yang menyuruh. Tersebut ada perhatian khusus dari Polda Jabar, ” ujar Erdi

MUI: Azan tidak boleh diubah

Sementara, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat, Rachmat Syafe’i mengatakan, titik berat azan tidak boleh diubah, sebab hal itu menyalahi syariat.

“Gak bisa (diubah). Teks azan itu tidak bisa diubah seolah-olah itu. Azan itu walaupun buat azan apa saja, termasuk untuk azan perang, azan angin ribut atau azan kelahiran, tetap saja teksnya seperti azan mengajak salat, ” kata Rachmat.

“Hukumnya sudah melupakan ketentuan syariat, ” papar Rachmat saat dihubungi wartawan di Bandung, Yulia Saputra untuk BBC News Indonesia, melalui saluran telepon, Jumat (04/12).

Kalimat azan yang diubah menjadi ajakan berjihad, kata Rachmat, tidak relevan dengan kondisi Nusantara saat ini.

“Sangat tidak relevan. Jadi justru dari segi muatan tidak relevan, bahkan membuat keonaran, ” tegasnya.

Karena itulah, Rachmat mengaku mendukung langkah polisi menyidik kasus tersebut.

Dua orang karakter dan penyebar ‘azan jihad’ ditangkap

Polisi telah menangkap seseorang dengan diduga mengubah lafal azan lantaran ‘hayya’lash sholah’ menjadi ‘hayya alal jihad’, karena tindakannya dianggap menimbulkan kebencian atau permusuhan di masyarakat.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono, dalam keterangan tertulis pada BBC News Indonesia, Jumat (04/12), membenarkan bahwa polisi telah menangkap pria berinisial SYM, 22 tarikh.

Pada sepekan terakhir, beredar sejumlah video di media sosial yang memperlihatkan sejumlah orang yang mengubah sebutan azan dari ‘hayya’lash sholah’ menjadi ‘hayya alal jihad’.

Diunggah oleh sejumlah media, ‘ajakan hijad’ dalam bang oleh sejumlah orang itu selayaknya digelar di beberapa tempat berbeda.

Kehadiran video ini kemudian membakar kontroversi dan muncul kecaman daripada berbagai pihak.

Sejumlah tokoh petunjuk dan politikus lantas meminta polisi untuk mengusut siapa pelakunya.

Ditangkap pada Sukabumi dan Jakarta

Menurut Argo, SYM ditangkap pada hari Jumat (04/12) dini hari, karena berniat menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau antagonisme berdasar SARA.

“Tersangka diamankan di Ustaz Raya Sukabumi, Kecamatan Cibadak, Jawa Barat, ” kata Argo Yuwono.

Tempat dijerat Pasal 45A ayat (2) Jo Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Cetakan 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan/atau Pasal 156a KUHP.

Sebelumnya, Kamis (03/12), penyidik Polda Metro Jaya selalu telah menangkap seorang pria berinsial H yang diduga menyebarkan gambar “ajakan jihad” melalui perubahan pelafalan azan di media sosial.

Menurut polisi, H ditangkap di Cakung, Jakarta Timur pada Rabu (02/12).

Yang terlibat diduga menyebarkan video tersebut meniti akun instagram pribadinya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus mengatakan, tersangka H mengaku mendapatkan video azan berisi ‘ajakan jihad’ itu dari grup WhatsApp Forum Muslim Cyber One (FMCO News).

“Modus operandi pelaku sungguh masuk dalam satu grup WhatsApp FMCO News ( Wadah Muslim Cyber One ), kemudian dia menemukan adanya unggahan video-video yang ada di agregasi tersebut, ” kata Yusri Yunus kepada wartawan, Kamis (03/12).

Sejauh ini belum ada keterangan resmi apakah kedua penangkapan ini saling bersentuhan.