Dongeng belasan polisi ‘Robin Hood’ dengan mencuri makanan dari Nazi

Dongeng belasan polisi 'Robin Hood' dengan mencuri makanan dari Nazi
  • Patrick Clahane
  • BBC News

48 menit yang lalu

Selama penjajahan Jerman dalam pulau mereka, sekelompok polisi Guernsey dikirim ke kamp kerja menekan oleh Nazi setelah diputus bersalah oleh pengadilan Inggris.

Barang apa kesalahan para polisi ini? Mengembat makanan pasukan Nazi untuk dibagikan ke warga Guernsey yang kelaparan.

Hanya sebagian polisi dari Pulau Guernsey, di Kepulauan Channel, kawasan Celah Inggris itu, yang akhirnya terjamin dan bebas.

Mereka bisa pulang ke kampung halaman pada akhir Perang Dunia II, tapi menderita aib atau mengalami luka-luka yang menukar sisa kehidupan mereka.

Begitu balik dari kamp Nazi, mereka serupa diperlakukan sebagai penjahat dan tidak mendapatkan uang pensiun.

Puluhan tahun setelah apa yang diyakini keluarga itu sebagai “ketidakadilan mengerikan”, anak-cucu para polisi ini berupaya membersihkan tanda ayah dan kakek mereka.

Akademisi dari Universitas Cambridge, Inggris, Gilly Carr, melenyapkan bertahun-tahun meneliti era pendudukan Nazi di Kepulauan Channel.

Carr berkata, ejekan pemerintahan Nazi terhadap martabat para-para polisi Guernsey, dalam beberapa kejadian, bahkan lebih buruk ketimbang dengan dialami warga sipil.

“Polisi Guernsey diharuskan memberi hormat kepada aparatur Jerman yang lewat. Menurut mereka urusan itu sulit dilakukan karena kontradiktif dengan apa yang mereka anggap benar, ” katanya.

Dua polisi perdana yang melakukan aksi perlawanan terhadap pasukan Nazi adalah Kingston Bailey dan Frank Tuck. Mereka meluluskan pasir ke tangki bensin organ Nazi.

Bailey dan Tuck serupa menuliskan “V for victory” pada berbagai lokasi di Pulau Guernsey.

Perut polisi itu terinspirasi siaran BBC yang secara diam-diam mereka dengarkan. Pada era perang itu, titik berat tersebut dianggap salah satu jalan melemahkan penjajah.

“Bagi para pemuda yang tidak mendapat kesempatan untuk beradu di kemiliteran, siaran radio sama dengan itu sangat menarik, ” kata pendahuluan Carr.

“Dan status dua pemuda tersebut sebagai polisi memberi mereka jalan untuk melakukan hal-hal yang dilarang, ” tuturnya.

Pada musim dingin tarikh 1941 hingga 1942, penduduk sipil di Kepulauan Channel kekurangan sasaran. Sebaliknya, pasukan Jerman memiliki banyak persediaan pangan.

Bailey dan Tuck suatu malam masuk ke tempat penyimpanan makanan Jerman. Mereka mengambil makanan kaleng untuk dibagikan ke warga pulau dengan kelaparan.

Bailey berkata, dalam memoarnya, bahwa pada Februari 1942 operasi rahasia itu “lepas kendali‚Ķseluruh anggota kepolisian ikut ambil bagian”.

Pada akhirnya Bailey dan Tuck tertangkap basah oleh tentara Jerman yang menunggu mereka. Sebanyak 17 polisi diseret ke pengadilan Kerajaan Guernsey. Beberapa sebab mereka didakwa mencuri botol anggur dan minuman keras dari toko-toko milik penduduk pulau.

Pasukan Jerman diduga menyiksa beberapa polisi selama jalan interogasi.

Seorang polisi bernama Archibald Tardif bercerita tentang saat-saat setelah itu ditangkap. Dia berkata, pasukan Jerman memperlihatkan pernyataan yang diteken sejumlah koleganya.

Jika tidak menandatangani maklumat itu, kata Tardiff, dia akan ditembak.

“Akhirnya saya menandatanganinya. Semua pernyataan itu diketik dalam sopan santun Jerman, ” ucapnya.

Belasan polisi itu diadili oleh pengadilan militer Jerman & pengadilan Kerajaan Guernsey, yang dengan admistratif, berada di bawah pranata yudikatif Inggris.

Mereka dijatuhi aniaya kerja paksa selama empat separuh tahun.

Sejarawan Paul Sanders menyebut jalan peradilan yang seimbang kala tersebut tidak terwujud bagi para polisi tersebut. Selama ini Sanders mencari jalan membersihkan nama baik polisi-polisi tersebut yang seluruhnya kini telah wafat.

“Pengadilan sipil Inggris pada tahun 1942 bertindak seperti ‘pengadilan kanguru’ di era kediktatoran terburuk, ” ujar Sanders.

Pengadilan kanguru adalah istilah dengan merujuk pada persidangan dengan metode bukti minim dan dakwaan lemas.

Sanders berkata, para polisi itu diberitahu otoritas Guernsey untuk mengaku bersalah. Tujuannya agar Jerman membiarkan itu diadili di pengadilan lokal.

Jika diadili di Guernsey, menurut keterangan dengan mereka terima, hukuman dari pengadilan tidak akan dihitung setelah perang.

Sebanyak 16 polisi kemudian dikirim ke penjara dan kamp kerja paksa di sejumlah negara Eropa. Banyak dari mereka mengalami kondisi yang mengerikan.

Tuck mencatat tentang kekejaman yang dia alamiah dari para penjaga: “Saya ditendang dan dipukuli hingga jatuh menggunakan pentungan, dan dhantam dengan popor senapan. ”

Herbert Smith adalah tunggal polisi yang tewas di luar Inggris.

Tuck bercerita bahwa Smith tidak diberi makanan dan pakaian kala cuaca sangat dingin. Perutnya dipukuli dengan sekop dan pentung, awut-awutan dibiarkan mati di penjara petugas rahasia Nazi, Gestapo.

Sementara ketika polisi bertanda Charles Friend dibebaskan oleh gerombolan Amerika Serikat, berat badannya cuma 45 kilogram. Dia juga tidak dapat menggunakan kakinya.

Friend menderita semasa sisa hidupnya sebagai akibat sejak “hari-hari yang mengerikan itu”. Dia meninggal tahun 1986 karena pukulan jantung.

Saat menghembuskan nafas terakhirnya, Friend tengah dalam perjalanan menuju pameran yang menampilkan kisahnya dan para-para polisi Guernsey tersebut.

Putranya, Keith, berceloteh, “Dia terluka oleh pengalamannya, cara secara mental maupun fisik, serta tidak pernah pulih dari tersebut. ”

Karena hukuman pidana, para polisi ini tidak dapat kembali ke pekerjaan mereka. Selain itu, mereka juga tak berhak mendapatkan uang pensiun.

Keith berkata, ayahnya membenci otoritas Guernsey. Ayahnya pernah berkata, tempat dan kawan-kawannya akan kembali dari penjara untuk “menyelesaikan semua urusan”.

“Dia marah dan merasa telah ditipu oleh otoritas lokal yang tak memenuhi janji, ” kata Keith.

“Saya menilai apa yang mereka lakukan adalah perbuatan yang mirip dengan aksi Robin Hood. Ini tidak kejahatan untuk keuntungan pribadi. Aktivitas itu untuk memberi makan orang-orang yang kelaparan, dan sebagai petugas mereka berada dalam posisi untuk memberikan solusi. ”

Setelah perang, beberapa besar polisi itu mengajukan imbalan ke pemerintah Jerman Barat atas penderitaan yang mereka alami.

Pada tahun 1955, delapan di antara polisi-polisi itu mengajukan banding atas aniaya pidana yang dijatuhkan kepada itu. Namun upaya itu gagal. Berarti mereka semua berstatus sebagai mantan narapidana ketika mereka meninggal.

Kasus itu disidangkan oleh pengadilan banding sempurna untuk wilayah Inggris, termasuk sebanyak negara yang berasosiasi dengan negeri itu, seperti Guernsey.

“Pada tahun 1950-an, ada ilusi yang menyatakan bahwa pemerintahan dan pengadilan Inggris di Guernsey terus berlanjut tanpa termakan pendudukan Nazi. Narasi ini terus berlanjut hingga sekarang, ” kata pendahuluan Sanders.

Di tahun 2018, sebuah pendekatan dilakukan kepada Komite Yudisial Dewan Advokat (JCPC) agar pengadilan banding sempurna Inggris itu berkenan memeriksa kembali permohonan tiga polisi Guernsey dengan diajukan pada tahun 1955.

Pengacara Patrick O’Connor QC, yang menangani peristiwa itu secara pro bono, berkata, “Ini adalah ketidakadilan yang sudah berlangsung lama dan menjadi tanggung jawab pengadilan, dan oleh sebab itu pengadilan harus memberikan pemaafan. ”

Namun, upaya banding tiga polisi itu ditolak pada Maret awut-awutan.

Di dalam keputusannya, JCPC menyatakan, “Ada sebesar hambatan dalam banding ini, lengah satunya fakta bahwa pengaduan tempat penganiayaan selama interogasi bisa diajukan kepada kami sebelum tahun 1955, tapi itu tidak pernah berlaku. ”

Terhadap pernyataan itu, O’Connor berkata, “Tidak ada prosedur lain buat membatalkan hukuman ini. ”

“Sayangnya, vonis itu akan menjadi noda pada sistem peradilan Guernsey untuk selalu, ” kata O’Connor.

Dan bagi Keith Friend, putusan pengadilan itu ialah pukulan yang sulit diterima. “Saya sangat kecewa, ” katanya.

“Ini sangat tidak adil dan sedang ada noda dalam keluarga hamba yang seharusnya tidak ada. Baik mereka semua sudah wafat sekarang, noda itu masih akan lestari ada. ”