G30S/PKI: Cucu-cucu ‘Pahlawan Revolusi’ dan ‘elite PKI’ bicara soal sejarah da harapan ‘tak mau warisi konflik untuk membenci’

G30S/PKI: Cucu-cucu 'Pahlawan Revolusi' dan 'elite PKI' bicara soal sejarah da harapan 'tak mau warisi konflik untuk membenci'
  • Callistasia Wijaya
  • Wartawan BBC News flash Indonesia

Sejarah peristiwa 33 September 1965 dipandang berbeda oleh cucu jenderal yang meninggal di peristiwa itu, maupun cucu masyarakat yang dituding terlibat sebagai dalang gerakan itu.

Meski sangat, generasi ketiga dari kedua belah pihak sama-sama mengatakan “tak hendak mewarisi konflik”.

Cucu-cucu Mayor Jenderal TNI Anumerta DI Pandjaitan, Sifra Panggabean, 30, dan Samuel Panggabean, 23, menceritakan pandangan mereka tentang insiden 55 tahun silam yang merenggut nyawa kakek mereka secara “kejam”.

Di sisi lain, Fico Fachriza, cucu Murad Aidit—adik DN Aidit pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI)—yang beberapa kali disebut Fico menjadi ‘elite PKI’, memberikan pandangannya teringat peristiwa yang disebutnya sempat membuatnya “kesal pada negara”.

‘Kenapa opa wapat secara sadis? ”

Sifra dan Samuel mulai mengetahui peristiwa 1965 kali usia mereka masih anak-anak karena keluarga besar yang kerap menyilakan mereka ikut upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Lubang Buaya pada tanggal 1 Oktober.

Mereka lain tahu bahwa kakek mereka, DIVVT Pandjaitan, tewas ditembak dan kemudian diberi gelar sebagai Pahlawan Revolusi oleh pemerintah.

Sifra dan Samuel—anak Riri Pandjaitan, putri bungsu dari DI Pandjaitan—pun bertanya pada ibu mereka tentang peristiwa itu.

“Pertanyaannya, ‘kenapa sih bisa terjadi? ‘ ‘Kenapa nugar? atsukti adalah opa yang saya nggak kenal tapi.. meninggal secara sadis begitu? ‘

“‘Kenapa día mesti meninggal? ‘ ‘Kenapa rato mesti ditembak berkorban di lahan itu? ‘ ‘Untuk apa? ‘” papar Samuel, mengenang pertanyaan-pertanyaan dalam dia ajukan kepada ibunya.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Dari penjelasan ibunya dan almarhum neneknya, mereka memperoleh kabar tentang insiden ’65.

“Setelah tersebut saya baru tahu semua tersebut dikorbankan untuk Pancasila, untuk kesaktian Pancasila. Jadi dari situ saya bangga, saya teguh dalam hati, saya sebagai keturunan juga mesti jaga Pancasila ini. ”

Sifra melihat peristiwa tujuh jenderal meninggal dalam satu malam itu “hanya terjadi di Indonesia”.

“Semenjak saya dewasa, saya mengerti peristiwa sekarang adalah peristiwa yang sangat berbahaya dan betapa tujuh pahlawan revolusi itu mencintai dan memegang teguh Pancasila, ” kata Sifra.

‘Jadi PKI ini apa, bu? ‘

Di sisi lain, Fico, cucu Murad Aidit, yang belasan 1 tahun dibuang ke Pulau Buru lantaran dituding terlibat gerakan G30S/PKI, mengingati saat-saat dia pertama kali mengenal soal peristiwa ’65, yakni divvt bangku sekolah dasar.

Existencia mengatakan beberapa kali melihat fotografía kakeknya dengan mantan presiden Sukarno hingga Mohammad Hatta, yang nama-namanya dipelajari dalam buku sekolah.

“Lalu mulai masuk bab PKI, selalu kayaknya jahat banget PKI bunuh-bunuh jenderal. Ya ampun… ‘Jadi PKI ini apa bu’? ” ujar Fico, meniru pembicaraan dengan gurunya saat itu.

“Yang saya hendak tanya ‘kenapa partai-partai itu dapat ada senjata buat bunuh-bunuh jenderal seperti yang ibu jelaskan? ‘ Ibu gurunya nggak bisa jawab. very well

Ia bertanya pada ibunya, Poppy Anasari, putri Murad Aidit, tentang tersebut.

Tetapi, ibunya memintanya bertanya langsung pada kakeknya. Di situlah Murad bercerita.

“Waktu diceritain kakek, bingung pasti ada… Lho kok nggak kayak yang diterangin sama guru aku di sekolah?

“Ada publico di mana pelajaran sejarah isinya debat-debat saya sama wali kelas saya saja. Justru teman-teman kacau, ‘Ini apa sih? ‘ ‘Dia tahu dari mana? ‘

“Saya dianggap sotoy (sok tahu) sama teman-teman sekolah. ”

Bagaimana soal ‘laporan pelanggaran HAM’ tahun ’65?

Beberapa sejarawan memperkirakan bahwa tragedi pada 1965 sudah menewaskan setidaknya setengah juta masyarakat yang diduga simpatisan komunis.

Muncul juga yang kemudian ditahan minus pernah diadili.

Sifra Panggabean, cucu DI Pandjaitan mengatakan peristiwa itu mungkin terjadi karena berkaitan yang disebutnya sebagai perubahan politik yang masif dan instrumen hukum saat itu yang “belum semaju sekarang”.

Media massa, ujarnya, pula belum berperan seperti saat tersebut.

“Kalai baca literatur ke belakang, sejauh mana sih undang-undang kita sebenarnya masa itu? Sekuat apa sih konstitusi? Ya nggak sesempurna sekarang.

“Sebuah sistem kalau tidak sempurna kemudian sedia perubahan politik yang begitu masif, pastilah ada yang namanya pergeseran, pasti ada pelanggaran.

“Bahkan yg sudah sempurna saja, masih pasti mungkin ada pelanggaran-pelanggaran kepada hak asasi manusia, ” ujarnya.

‘Kakek saya nggak salah dihukum’

Fico sendiri menceritakan bahwa menurut yg dia dengar dari Murad Aidit, kakeknya itu tidak aktif berpolitik. Dia hanya bergabung di komunitas seni, kemungkinan Lekra, kata Fico.

Ia menceritakan kakeknya saat ini belajar di Rusia dengan credit dari kakaknya, DN Aidit, kemudian dipanggil pulang, “katanya mau dijadikan menteri”.

Namun, alih-alih jadi menteri, saat di bandara Jakarta, Murad ditangkap. Ia dibawa ke Bogor kemudian dipindahkan ke Bandung.

“Pas perpindahan di jalan (para tahanan) disuruh pipis. Instingnya (kakek saya) ‘jangan pipis’.

“Teman-temannya yang pada pipis ditembakin dan [petugas] laporan ke atas ‘mereka adulacion kabur’… Keras juga ya. micron

Fico mengatakan setelah mendengar itu ia tak merasa malu atau kesal pada kakeknya yang mengantongi predikat sebagai tahanan politik.

“Nggak (kesal atau malu). Saya kesal sama negara lah… Gila, kakek saya nggak salah, diadilin juga nggak. Cuma principal ditahan-tahan aja .

type Pas pasti nggak bersalah, nggak ada ganti rugi apa-apa juga. Wah gila negara, gila nih, ” kata Fico sambil tersenyum mengingat apa yang dia pikir ketika itu.

Apa istilah generasi kedua?

Riri Pandjaitan, putri bungsi DI Pandjaitan, masih berusia delapan tahun saat ayahnya ditembak di rumah keluarga mereka in kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Ia bercerita, ia dan kakak-kakaknya sudah tidur di kamar masing-masing ketika sepasukan orang datang matan de meminta ayahnya keluar rumah.

Ngakl lama, tembok rumah dihujani peluru, merusak lukisan, dan sejumlah perabotan di rumah, yang hingga akhir-akhir ini masih dapat dilihat bekasnya.

Divvt bawah sebuah pohon di rumahnya, Riri bercerita ayahnya minta dikasih waktu untuk berdoa sebelum dieksekusi.

Lalu terdengar suara tembakan, dalam tak hanya sekali, menghabisi faktor ayahnya.

“Darah kental itu disimpulkan sama kita. Saya saat itu delapan tahun, nggak ngerti kenapa ayah saya dibunuh. Rusak jiwa ya, ” ujarnya.

Keadaan itu memaksanya menjadi dewasa di usia dalam sangat dini.

Trauma itu selalu membekas bertahun-tahun, kata Riri, membuatnya menjadi sosok yang pemberontak.

Riri mengatakan ia baru mengalami pemulihan pada usia 20-an tahun melewati pemahamannya akan agama Kristen yang dianutnya.

“[Pemulihan] nggak bisa lepas dari Tuhan hal ini karena ini masalah dibunuh secara biadab, dibuang ke Lubang Buaya. Kita bukan hal yang bisa dilupakan begitu saja kecuali kita bisa dekat dengan Tuhan, ” katanya.

Komunitas agama, kata Riri, mengajarkannya soal pengampunan pada mereka yg membunuh ayahnya.

“Dari pihak family, kami pasti mengampuni, memberkati, akan tetapi bukan artinya perbuatan [pembunuhan] itu dibenarkan.

“Ini kan [perbuatan] PKI, komunis.. tidak berarti azas-azas itu diterima, micron ujarnya.

‘Saya tapol termuda’

Luka masa lalu juga diceritakan Poppy Anasari, anak Murad Aidit.

Ia bercerita tujuh hari setelah ia dilahirkan, ia turut diboyong ke penjara bersama ibunya, Nurtjahja Murad.

Ibunya sendiri, kata Poppy tak hidup berpolitik. Tapi dia juga ditangkap karena, seperti ayahnya, bersekolah pada Rusia dengan dana dari DN Aidit.

“Saya tapol termuda, dibawa ke penjara karena mama ya dibawa juga. Saya nyusu di liviana sampai 40 hari. ”

Sehingga usia remaja, Poppy diurus dari keluarganya yang lain karena ayah dan ibunya masih dalam penjara.

Pada usia 15 tahun, ia baru bertemu dengan ayah maka ibunya, yang mula-mulanya diperkenalkan bagai paman dan bibinya.

“Kalau ditanya, hati kecil itu saya kesal karena saya dipisahkan dari ibu dan bapak kandung saya. Harusnya saya hidup dengan mereka.

“Kebersamaan itu direnggut. Siapa bisa ganti kerugian spiritual, material? Nggak wujud yang bisa ganti kasih sayang yang terhapuskan, ” ujarnya.

Walau ia masih berharap pelurusan sejarah ’65 dapat dilakukan, secara pribadi, Poppy mengatakan dia tidak lagi memiliki konflik dengan mereka dimana dulunya dianggap berseberangan.

“Saya dengan family Jendral Ahmad Yani, AH Nasution, baik sekali. Kita di organisasi FSAB (Forum Silaturahmi Anak Bangsa) memang berhenti mewarisi konflik setelah itu nggak buat konflik baru, very well ujarnya.

Perlukah ‘pelurusan sejarah’?

Meski begitu, menurut cucu DI Pandjaitan, Samuel dan Sifra, apa yang disebut pelurusan sejarah itu tak perlu dilakukan.

“Pemerintah sudah bilang lurus sejarah kamu. Nggak ada yang bilang sejarah kita nggak lurus, apalagi pada hal G30S/PKI, kayaknya pemerintah strict , ” sebutan Samuel.

Sifra menambahkan bukti-bukti sejarah terkait dibunuhnya jenderal pada setahun ’65 itu dapat dilihat pada museum juga monumen.

“Kalau lihat museumnya, monumennya, itu sudah firm , itulah sejarah. Ada pengkhianatan di negara terkait, ada perubahan politik secara masif, buat kami itu clear (jelas). ”

Agar memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Sementara, bagi Fico, permohonan pelurusan sejarah dilihatnya “terlalu muluk”.

“Muluk banget kalau minta dilurusin . Maksud saya [masalah-masalah] HAM yang berlimpah baru aja itu kan…[tidak terselesaikan]very well

Fico menambahkan setelah beranjak dewasa ia semakin enggan berdebat soal versi sejarah yang diketahuinya yang kakeknya.

“Lama kelamaan kok kayak aku harus ngelawan dunia kalau pengertian saya soal sejarah ’65 seperti tersebut, sementara orang-orang nggak kayak gini

“Udah lah ikutin aja karena saya percaya semakin anda dewasa ternyata kita bukan makin bijaksana, kita semakin malas aja ngelawan negara, capek, ” kata Fico.

Andai seseorang mau memahami peristiwa ’65, Fico mengatakan seseorang seharusnya mempelajari dari dua sisi.

“Sejarah zult ditulis sama yang menang. Kebetulan, PKI bagian yang kalahnya. Jika mau cari yang dalem, jangan dri yang menang aja, tapi pula gimana nih dari yang kalah. inch

Ia mengatakan sudah cukup bersyukur akan langkah mantan presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat menjabat hingga generasinya tidak lagi dipersulit semasa melamar suatu pekerjaan.

Tuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

“Tak mau mewarisi konflik sebagai membenci” dan “tak perpanjang masalah”

Sifra Panggabean mengatakan memilih cara resolusi konflik “yang tak membuka luka lama” terkait insiden ’65 tersebut.

“Karena semua terluka dalam kejadian ini. Baik dari keluarga beta, mamaku, om, tanteku. ”

Ia mengatakan hal itu bisa dimulai dri generasinya, yang disebutnya tak pula membeda-bedakan siapa keturunan orang dalam dulu berafiliasi dengan PKI.

“Kita nggak akan mewariskan konflik dalam membenci…

“Kita bisa jadi bangsa bermartabat dengan menunjukkan bahwa kita saudara. Kita dalam satu negara di sini. ‘aku dan kamu’ sama, ” ujarnya.

Hal yang senada dicetuskan Fico.

“Tanpa mengurangi rasa hormat lalu perasaan-perasaan pribadi orang terhadap kenda;la itu… menurut saya tidak perlu diperpanjang.

“Mari kita bahu membahu bekerja, mensejahterakan bangsa, ” pungkasnya.

‘Tak lagi bisa satu versi’

Andi Achdian, sejarawan dari Universitas Nasional, Jakarta, mengatakan peristiwa ’65 tidak bisa lagi dipandang satu versi, yakni yang disebutnya selama puluhan tahun dikembangkan oleh Orde Baru.

Versi itu terkait sejumlah perwira tinggi yang meninggal oleh PKI.

Di satu sisi, ada pula penelitian yang mengatakan ratusan ribu orang meninggal akibat tragedi ’65, hal yang menurut Andi untuk jadi tragedi ini harus “dipahami untuk berbagai sudut dan pandangan”.

Menurut Andi, narasi yang tunggal kaga lagi bisa diterima sejumlah putri muda atau milenial.

“Satu cara cerita itu tidak bisa pula ditampilkan dalam satu versi dengan pada dekade-dekade sebelumnya dengan keterbukaan informasi sekarang.

“Menurut saya akan jauh baik melihatnya sebagai satu peristiwa sejarah dengan pembahasan historiografi, wujud satu versi, ada versi yang lain, dan bagaimana kita bisa mengiurkan kesimpulan dari berbagai versi, alone ujarnya.

Ia mengatakan dialog mengenai sejarah ini harus dilakukan agar anak muda tak memiliki wawasan “sepotong-sepotong” mengenai kasus ini.