BMKG prediksi cuaca ekstrim ‘akan terjadi hingga Oktober’, ‘curah hujan lebih tinggi’, dan masyarakat ‘harus waspada’

BMKG prediksi cuaca ekstrim 'akan terjadi hingga Oktober', 'curah hujan lebih tinggi', dan masyarakat 'harus waspada'

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrim akibat peralihan musim jadi terjadi hingga Oktober dan curah hujan akan lebih tinggi lalu basah dibanding tahun sebelumnya.

Masyarakat diimbau agar berhati-hati dan waspada serta mulai menjaga kebersihan lingkungan guna meminimalisir bahkan dapat menghindari potensi bencana akibat cuaca ekstrim, kata Badan Nasional Penanggulangan Gangguan (BNPB).

Dalam sepekan terakhir, petaka seperti banjir yang merenggut korban jiwa hingga kerusakan infrastruktur dan harta benda terjadi di sejumlah daerah.

Selain banjir yang menerjang Sukabumi, Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat, serta sebagian Jakarta, banjir yang disertai longsor terjadi pula pada Kabupaten Aceh Barat Daya.

Dilaporkan pula terjadi angin puting beliung di Cirebon, hingga air bah di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), menyatakan bencana-bencana tersebut disebabkan curah hujan tinggi akibat cuaca ekstrim di peralihan musim (pancaroba) yang berlangsung dari September hingga Oktober mendatang.

Tahun ini, menurut BMKG, curah hujan diprediksi maka akan lebih banyak dan basah dibandingkan tahun kemarin, namun masih di dalam kategori normal karena tidak dipengaruhi fenomena El Nino maupun Una Nina.

Bencana hidrometeorologi – yang dipengaruhi faktor cuaca seperti hujan yang tinggi menyebabkan banjir, longsor dan puting beliung – menjadi penyumbang terbesar (98%) dari total bencana yang terjadi selama satu dekade di Indonesia, menurut data Awak Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

BNPB dan BMKG mengimbau seluruh penduduk Indonesia untuk waspada akan potensi terjadinya bencana akibat cuaca ekstrim, dengan tetap taat pada protokol kesehatan Covid-19.

Banjir bandang Sukabumi: ‘Saya dan adik hanyut thirty meter’

Seorang korban banjir bandang di Sukabumi yang terjadi Senin (21/09) lalu, Egha Gusliandi bercerita bahwa ia dan adiknya hanyut thirty meter akibat banjir bandang, hingga akhirnya bertahan pada pohon kelapa selama sekitar 30 menit sebelum berhasil dievakuasi.

“Saya lagi tidur di kamar, adik saya lagi major telepon. Tiba-tiba adik bangunin dan bilang banjir besar, saya lihat ke luar rumah, mobil hanyut, inch kata Egha kepada wartawan di Kabupaten Sukabumi Wulung Widarba yang melaporkan kepada BBC News Indonesia, Kamis (24/09).

Banjir yang terjadi sore hari di Kampung Cibuntu, Cicurug, Kabupaten Sukabumi itu dengan cepat merendam rumah Egha dan ratusan rumah lainnya. Ia dan adiknya pun keluar dari jendela rumah untuk menyelamatkan diri.

Egha serta adiknya kemudian naik di atas mobil. Namun, karena air oleh cepat menutupi kendaraan tersebut, Egha lalu memegang erat adiknya buat menyusuri pinggiran banjir.

Tidak kuat menahan arus yang kencang, mereka hanyut hingga 30 meter dan bertahan dengan memegang pohon kelapa hingga setengah jam sebelum akhirnya dievakuasi.

“Saya coba bertahan waktu itu, yang penting adik selamat. Sekarang kondisinya, rumah depan dan belakang hanjur, kendaraan hancur.

“Saya tidak bekerja. Mudah-mudah wujud bantuan, rumah dibangun kembali serta bantuan uang untuk kami, ” kata Egha yang kini mengungsi di rumah kerabatnya.

Korban lainnya, Ujang Lim yang berprofesi sebagai tukang ojek berharap kepada pemerintah agar diberikan bantuan seperti materi karena tidak bisa lagi bekerja. Motornya hanyut terbawa banjir.

“Saya juga ingin rumah diperbaiki, ada bantuan buku-buku dan alat sekolah untuk anak-anak karena hanyut sepenuhnya, ” kata Ujang yang mengatakan rumahnya rusak, seluruh surat-surat seperti SIM, KTP dan lainnya hilang terbawa banjir.

Pemerintah Kabupaten Sukabumi telah menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari hingga twenty-seven September 2020.

Dua tewas, satu hilang dan ratusan rumah rusak

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukabumi Maman Suherman mengatakan, banjir bandang tersebut menyebabkan dua jamaah tewas akibat hanyut terbawa banjir dan satu masih dalam pencarian.

“Rumah rusak berat ada 72, rusak sedang ada 31, dan ringan ada 105 rumah. Jembatan rusak berat ada tiga, dan ada 210 kepala keluarga atau 728 jiwa yang terdampak akibat banjir ini, ” katanya.

Maman menambahkan, BPBD dan tim terkait sudah menyalurkan 14 jenis bantuan contohnya beras, mie instan, sabun hingga selimut kepada masyarakat terdampak.

Selain itu, Maman menyebutkan bahwa BPBD Kabupaten Sukabumi tidak memiliki dana khusus bencana alam yang dapat digunakan untuk menanggulangi banjir contohnya ini.

“Jangankan untuk penanggulangan masif seperti ini, tuk bencana kecil saja tidak ada, untuk kesiapan buffer stock sampai Juli saja kami sudah habis, ” kata Maman.

Dana yang diperoleh oleh BPBD Sukabumi untuk operasional saat ini berasal dari bantuan BNPB senilai Rp250 juta, pemerintah provinsi dan masyarakat.

BPBD juga menerima bantuan masker dari BNPB Pusat sebanyak 10 ribu untuk melaksanakan protokol kesehatan guna mencegah munculnya klaster baru virus corona di daerah bencana.

“Ke depan kami berharap setelah masa darurat lewat dan memasuki masa transisi agar infrastruktur dan rumah yang rusak dapat menjadi perhatian, ” katanya – juga menyebut Sukabumi sebagai daerah yang memiliki potensi bencana besar.

Mengapa terjadi banjir di sejumlah daerah?

Dalam sepekan terakhir, bencana banjir akibat curah hujan yang tinggi menghantam beberapa wilayah barat Indonesia.

Senin selanjutnya (21/09), fenomena hidrometeorologi yang berujung pada banjir bandang dan longsor terjadi di Kabupaten Sukabumi, Jabar.

Laporan resmi menyebutkan, curah hujan disertai es dengan intensitas tinggi hingga 110 mm dalam periode empat jam itu dipicu kondisi atmosfer yang labil dan diperkuat dengan fenomena gelombang Rossby ekuatorial serta adanya daerah petemuan angin (konvergensi).

Fenomena hidrometeorologi ini mengakibatkan dua orang tewas, satu hilang dan ratusan rumah rusak.

Pada waktu bersamaan, banjir juga mengenang hingga setinggi 30 sentimeter sebagian wilayah di Jakarta dan menyebabkan 104 jiwa mengungsi.

Angin puting beliung juga melanda wilayah Kabupaten Cilacap yang menyebabkan satu rumah roboh.

Keesokan harinya, Selasa (22/09), angin puting beliung disertai hujan intensitas tinggi terjadi di Desa Karangmalang, Kabupaten Cirebon yang menyebabkan dua orang terluka.

Masih di hari yang sama, banjir menggenangi 15 desa di Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Berat akibat intensitas hujang tinggi yang berlangsung cukup lama. Tinggi air genangan mencapai hingga 2, 5 meter.

Pada Rabu (23/09), banjir disertai tanah longsor yang dipicu hujan intensitas tinggi melanda beberapa kecamatan di Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat.

Danjir dan longsor juga terjadi di Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh di hari yang sama. Enam kecamatan terdampak akibat bencana ini dan mengakibatkan beberapa rumah warga terendam dengan ketinggian hingga 50 sentimeter.

Mengapa rentetan bencana itu terjadi? Menurut BMKG disebabkan karena Indonesia tengah memasuki pancaroba yang menciptakan cuaca ekstrim dan berpotensi akan terjadi hingga Oktober mendatang.

“Sekarang di masa pancaroba yang memunculkan cuaca ekstrim seperti hujan sporadik hingga hujan es, angin puting beliung, lalu menjadi bencana atau diperparah apabila jatuh di kondisi lingkungan yang rusak, tidak mampu menapung curah hujan, seperti bantaran sungai bukan bagus, perbukitan yang tidak hijau, termasuk daerah perkotaan, ” kata Deputi bidang Meteorologi BMKG Guswanto.

Pada masa peralihan musim tersebut, penduduk perlu mewaspadai adanya potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat dalam durasi singkat yang dapat disertai petir, angin kencang, angin puting beliung, bahkan fenomena hujan ha sido.

“Curah hujan tahun ini dilihat dari prakiraan cuaca, akan lebih lebat dan sedikit basah di bandingkan tahun kemarin. Namun masih dalam posisi normal karena tidak dipengaruhi El Nino maupun La Nina. Puncaknya terjadi kira-kira Februari tahun depan, ” katanya.

BNPB: Anggaran gangguan alam telah tersedia

BNPB menegaskan anggaran untuk bencana alam tidak terpengaruhi oleh wabah virus corona yg menguras tenaga dan uang negara.

“Kami punya dana siap pakai yang bisa dimanfaatkan bila terjadi bencana dan pemerintah menyatakan masa tanggap darurat, anggaran itu dapat dilaksanakan, ” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati.

Kementerian Keuangan telah mengalokasikan anggaran kebencanaan selama 2020 hingga Rp5 triliun.

Selain dana, memasuki musim hujan, Raditya meminta pemerintah daerah mewaspadai wilayahnya yang berpotensi menimbulkan resiko banjir dan longsor dikarenakan menurutnya sekitar 98% bencana yg terjadi di Indonesia dalam satu dekade terakhir dipicu oleh faktor hidrometeorologi.

Guna menanggulangi potensi gangguan di tahun 2020, ia juga meminta penguatan sinergitas dan integritas di antara pihak-pihak terkait dari pusat hingga daerah dalam melakukan pencegahan, mitigasi serta penanggulangan gangguan di Indonesia yang mungkin terjadi kembali ke depan akibat cuaca ekstrim.

“Hampir seluruh wilayah di Indonesia memiliki sungai, pesisir lalu perbukitan yang rawan bencana banjir dan longsor dan berpotensi resiko cukup tinggi terjadi bencana hidrometeorologi, ” katanya.

Raditya juga menegaskan penanggulangan bencana juga harus mematuhi protokol kesehatan. Seperti di Sukabumi, petugas melakukan pengawalan dengan pengeras suara agar masyarakat tidak berkerumun lalu juga membagikan masker.

“Di di dalam tenda juga diatur jumlahnya, disediakan masker, dan cuci tangan, cek suhu, dan pemberian vitamin, ” katanya.

Masyarakat diminta hati-hati serta waspada

BMKG dan BNPB mengimbau penduduk untuk hati-hati dan waspada serta mulai menjaga kebersihan lingkungan sekitar guna meminimalisir bahkan dapat menghindari potensi bencana akibat cuaca ekstrim.

“BMKG meminta ke masyarakat untuk membersihkan lingkungan yang kurang bagus dan siap memasuki musim hujan, seperti membersihkan saluran air, pemda mengeruk sungai.

“Kedua selalu pantau prakiraan cuaca yang dikeluarkan BMKG di situs ini agar kita semua terus waspada.

“Dan terakhir, tetap terapkan protokol kesehatan, jangan sudah jatuh [terdampak bancana alam] tertimpa tangga [kena virus corona], ” kata Guswanto.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, membersihkan lingkungan, dan mengetahui informasi akan potensi bencana di daerahnya masing-masing, dan selalu waspada, ” kata BNPB Raditya Jati.

Sepanjang tahun 2020, terjadi 2. 080 bencana di Indonesia, yang mayoritas disebabkan hidrometeorologi seperti banjir (779 kasus), puting beliung (552 kasus) dan tanah longsor (380 kasus).

Seluruh gangguan yang terjadi menyebabkan 285 meninggal dunia, 26 orang hilang, dan lebih dari 4, 3 juta orang menderita dan mengungsi.

Selain gangguan alam tersebut, Indonesia juga dilanda oleh bencana nasional virus corona dengan kasus positif lebih dri 250 ribu orang dan lebih dari 9. 000 meninggal dunia.