Covid-19 menyebabkan 115 dokter Indonesia meninggal, IDI keluarkan pedoman standar perlindungan khusus

Covid-19 menyebabkan 115 dokter Indonesia meninggal, IDI keluarkan pedoman standar perlindungan khusus
  • Muhammad Irham
  • BBC News Indonesia

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengeluarkan pedoman penopang perlindungan dokter pada era Covid-19. Pedoman ini dikeluarkan setelah jumlah kasus kematian dokter terus merayap akibat virus corona.

Ikatan Tabib Indonesia (IDI) mencatat per 13 September 2020, sebanyak 115 sinse meninggal karena Covid-19.

Di sisi lain, Presiden Joko Widodo memerintahkan Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto untuk mengaudit dan mengoreksi protokol kebahagiaan di rumah sakit bagi gaya kesehatan. Menurutnya, hal ini perlu dilakukan agar rumah sakit menjelma ‘tempat yang aman dan tidak menjadi kluster penyebaran Covid’.

Berdasarkan catatan IDI, risiko yang menyebabkan urusan kematian dokter selalu berulang. IDI menduga penyebabnya antara lain minimnya APD, kurangnya skrining pasien pada fasilitas kesehatan, kelelahan para gaya medis karena jumlah pasien COVID-19 yang terus bertambah, jam kegiatan yang panjang, serta tekanan psikologis.

Hans Siti Masoh Soesana, 55 tahun, adalah dokter umum pada Puskesmas Sukapura, Jakarta Utara. Ia sudah dua kali terinfeksi virus corona.

Pertama, ia terinfeksi diperkirakan di dalam akhir Juni lalu. Penularan dengan ia sebut bukan berasal daripada pasien, tapi kontak dari seorang pedagang di kantin puskesmas.

Saat tersebut Soesana memesan makanan yang diantar sendiri oleh ibu kantin ke ruang kerjanya. Baru diketahui belakangan, dua anak dari ibu kantin ini positif Covid-19.

“Saya bayar ke ibunya. Ternyata ibunya eh pasti. Nggak tahu dari uang atau dari mana. Itu warungnya bersih. Habis gitu saya pakai hand sanitizer. Dia juga biasa-biasa sekadar, ” kata dr Soesana kepada BBC News Indonesia,

Pada kasus infeksi pertama, Soesana mengaku tidak mengalami gejala yang signifikan. Ia tahu menjalani isolasi dan perawatan, ‘hanya pusing sedikit’, lalu dinyatakan negatif, dan kembali bekerja di puskesmas akhir Juli.

“Sekarang itu (terinfeksi virus corona kedua) tanggal 5 Agustus lagi. Tanggalnya sama, sebulan lalu. Gejala itu luar biasa. Tapi ke arah jantungnya, jadi ada pembesaran jantung. Macam-macam jadinya, ” lanjut Soesana.

Pada kasus infeksi virus corona yang kedua kalinya, ia tak mengetahui sumbernya. Tapi dia sempat bekerja di puskesmas sebelum akhirnya terinfeksi lagi.

“Yang kedua tersebut, tanggal 20 Juli sudah meresap 28-30 Juli. Itu pun layanan di (lantai) atas. Pakai APD lengkap, ” katanya melalui sambungan telepon.

Sesaat kemudian Soesana tak bisa melanjutkan pembicaraan dengan BBC News Indonesia, karena ia harus kembali memasang selang oksigen.

Saat tersebut hasil tes usap-nya sudah membuktikan negatif. Tapi dampak yang ditimbulkan virus corona ini membuatnya kesusahan bernapas.

Dalam pesan tertulis, Soesana berharap adanya perhatian lebih terhadap sinse umum yang berjaga di puskesmas, terutama dalam penyediaan APD.

Zaman bertugas beberapa bulan lalu, baju hazmatnya dicuci ulang agar mampu dipakai tiga hingga lima kala.

115 dokter meninggal, hampir 300. 000 orang kehilangan akses dokter

IDI mencatat kematian dokter akibat Covid-19 dalam sebulan terakhir yang diiringi pertambahan penderita Covid-19.

“Ada satu, dua dokter yang meninggal dalam waktu sebulan terakhir ini, ” kata pakar bicara IDI, Halik Malik kepada BBC News Indonesia, Senin (14/09).

Data IDI per 13 September mencatat total sebanyak 115 dokter meninggal. Dari jumlah itu, 60 dalam antara mereka merupakan dokter umum, 53 dokter spesialis, dan perut dokter residen.

Sebanyak tiga dokter ijmal dan empat dokter spesialis ialah guru besar.

Halik mengatakan kebanyakan dokter yang meninggal karena Covid-19 ialah dokter umum.

“Tidak semua dokter dengan meninggal itu, bertugas di sendi sakit (khusus) Covid atau bekerja menangani pasien Covid di kawasan isolasi. Itu betul. Memang, beberapa yang meninggal itu justru pada pelayanan-pelayanan umum, ” kata Halik.

Meninggalnya para dokter ini merupakan bogem mentah besar bagi sektor kesehatan Nusantara.

Pasalnya, rasio dokter dan penduduk di Indonesia saat ini mencapai satu: 2. 500. Itu artinya kepala dokter bisa menangani 2. 500 pasien.

Dengan meninggalnya 115 dokter selama pandemi, hampir 300. 000 penduduk Indonesia kehilangan akses tabib.

Dengan jalan apa cara agar total kematian dokter tidak terus merayap ?

IDI mencatat sejumlah permasalahan yang berulang-ulang sebagai pasal kematian dokter pada masa Covid-19.

Di antaranya adalah minimnya APD, skrining pasien yang kurang cara di fasilitas kesehatan, kelelahan para-para tenaga medis karena jumlah penderita COVID-19 yang terus bertambah, dan jam kerja yang panjang, dan tekanan psikologis.

Untuk menekan total kasus penularan Covid-19 dan janji dokter ini, IDI membuat kaidah standar perlindungan dokter di era Covid-19.

“Ya, boleh dikatakan pedoman penumpil perlindungan petugas medis dalam mengikhtiarkan pandemi Covid itu kan belum ada. Kita sudah merancang & menerbitkannya. Jadi itu bisa dikatakan yang pertama. Di tingkat ijmal belum ada yang spesifik, ” kata Halik.

Dalam pedoman itu, diatur mulai dari ketersediaan dan penerapan APD dari tingkat fasilitas kesehatan tubuh pertama hingga lanjut, dari efek rendah hingga sangat tinggi.

Cerai-berai, pembagian zonasi fasilitas kesehatan, skrining pasien, pemeriksaan tes covid-19 dengan berkala bagi dokter, hingga tanda kerja dokter yang tak dapat melewati 6-8 jam per hari.

Dengan meningkatnya pasien Covid-19, membuat gaya kesehatan kewalahan, termasuk para dokter.

Hal ini disadari oleh IDI, sehingga untuk menjaga keberlanjutan penyajian kesehatan dan penangan pandemik perlu diatur jam kerja untuk gaya kesehatan.

“Menambah RS rujukan, merekrut relawan dokter, dan mengurangi jam kerja dokter selama masa pandemi ialah langkah yang harus ditempuh buat menjaga imunitas dan stamina tabib agar tetap sehat dan sehat dalam bekerja, ” kata Halik.

“Kalau tidak diatur dengan baik tenaga kesehatan berisiko mengalami burnout serta rentan terkena Covid-19 akibat bagasi berlebih pasien yang semakin hari semakin banyak”

Ia berharap, pedoman itu dijadikan kebijakan oleh pemerintah & diterapkan di seluruh fasilitas kesehatan.

Pakar bicara Satgas pemerintah untuk penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito belum berkomentar banyak soal ini. “Tanya ke dokter praktek saja, ” katanya melalui pesan singkat.

Rumah sakit diminta siaga

Tengah itu, Perhimpunan Rumah Sakit Segenap Indonesia (PERSI) masih menunggu buatan pasti dari penyebab meninggalnya sinse yang terinfeksi Covid-19.

“Jadi mudah-mudahan pada waktu dekat, kita bisa tuh (hasilnya), kalau sudah bisa enak, pasti kan, beda-beda kondisinya. Jadi nggak berani saya mengikatkan bahwa ini penyebabnya apa. Belum ada audit medis, ” logat Sekretaris Jenderal PERSI, dr Lia G. Partakusuma kepada BBC News Indonesia, Senin (14/09).

Selain itu, PERSI sudah menyerukan kepada seluruh sendi sakit untuk siaga menyusul tingginya kasus kematian dokter.

“Siaga akan tetapi juga harus ngerti juga, milahnya (pasien) harus tahu persis, jangan sampai nanti nggak bisa milihnya, mana yang campur, mana dengan menular mana yang tidak, ” kata Lia.

Ia melanjutkan, saat itu yang dibutuhkan rumah sakit merupakan fasilitas pemeriksaan bagi pasien, berangkat dari pemeriksaan melalui wawancara dengan dokter (anamnesis), hingga laboratorium.

“Harus benar-benar teliti. Itu yang kudu dikerjakan, ” kata Lia.

Sementara itu, virolog dari Universitas Udayana Bali, Prof I Gusti Ngurah Kadek Mahardika, mengingatkan kalangan dokter, dengan keberadaan pasien yang gejalanya tidak pada pernapasan.

“Virus ini membentuk menyerang ginjal, pencernaan juga, siap tidak kelihatan dari gejala pernapasannya, ” katanya kepada BBC News Indonesia.

Ia menambahkan, disiplin penggunaan APD juga perlu diperhatikan mengingat gaya kesehatan yang bekerja di lingkungan terpapar virus.

Presiden Jokowi perintahkan audit protokol kesehatan di RS

Pada sisi lain, pemerintah berencana mengaudit dan mengoreksi protokol di vila sakit seluruh Indonesia. Hal itu sesuai perintah Presiden Joko Widodo kepada Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.

“Saya minta ini, agar menteri kesehatan segera melakukan audit dan koreksi mengenai protokol keamanan buat tenaga kesehatan dan pasien, dalam seluruh rumah sakit.

“Sehingga, rumah sakit betul-betul menjadi tempat dengan aman dan tidak menjadi kluster penyebaran covid, ” kata Pemimpin Jokowi saat membuka rapat terpatok mengenai “Laporan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional”, Senin (14/09).

Presiden Jokowi juga meminta jajarannya untuk memastikan ketersediaan tempat rebah dan ICU di rumah sakit rujukan untuk pasien dengan fakta berat.