Covid-19: Puskesmas dan rumah sakit tutup layanan akibat pandemi, layanan kesehatan tubuh dikhawatirkan ‘jebol’ dalam enam bulan

Covid-19: Puskesmas dan rumah sakit tutup layanan akibat pandemi, layanan kesehatan tubuh dikhawatirkan 'jebol' dalam enam bulan

Sejumlah puskesmas dan rumah sakit di berbagai daerah terdesak menutup sementara layanan kesehatan karena tenaga medisnya dinyatakan positif Covid-19.

Di sisi lain, kapasitas wahana kesehatan yang tersedia dikhawatirkan tak bisa mengakomodasi pasien di pusat tren peningkatan kasus yang terus terjadi.

Konsekuensinya, menurut juru bicara Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Halik Malik, fasilitas kesehatan dan gaya medis harus mengantisipasi kasus yang tinggi dan terus bertambah.

“Yang dialami saat ini rumah kecil banyak yang terpaksa harus menetapkan layanan karena petugasnya ada yang diistirahatkan, ada yang dirawat, serta harus mengurangi jadwal bekerja sebab meningkatnya beban di rumah kecil tempat mereka bekerja, ” perkataan Halik Malik kepada BBC News Indonesia, Rabu (12/08).

“Akibatnya, ada kondisi di mana tempat perawatan itu tidak seimbang dengan kondisi keinginan layanan atau kebutuhan perawatan pasien yang memang perlu dirawat terkait Covid ini, ” imbuhnya.

Firdza Radiany — seorang analis data yang juga merupakan insiator pandemictalks , platform edukasi terkait Covid-19— memperkirakan, jika Nusantara tidak ada upaya untuk menekan kasus aktif sampai dibawah 10% dan tetap konsisten di kisaran 30%-40%, maka dalam waktu 3 hingga enam bulan ke pendahuluan okupansi tiap provinsi akan semakin penuh.

“Sejak awal [pandemi] active cases (kasus aktif) kita cukup konsisten di 30-40%, bayangkan nanti kalau active cases sudah datang 200. 000, kami yakin sudah mulai jebol sih, ” perkataan Firdza.

Pakar matematika epidemiologi lantaran Insitut Teknologi Bandung (ITB), Nuning Nuraini, menyebut dua fenomena ini mengindikasikan tenaga medis dan bentuk kesehatan “menjadi korban” pandemi dengan dia proyeksikan akan berlangsung periode.

“Akhirnya yang menjadi korban merupakan nakes (tenaga kesehatan) dan pola kesehatan karena seperti yang kita sudah tahu, tanpa Covid pun sebenarnya fasilitas kesehatan di semesta provinsi tidak merata, ” ujar Nuning.

Puskesmas dan rumah sakit menutup layanan

Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat, menutup layanan empat pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) selama tiga keadaan pada Selasa (11/08), setelah gaya medis dan pegawai puskesmas itu terkonfirmasi positif Covid-19.

Empat puskesmas pada kota Bogor yang ditutup sementara waktu adalah Puskesmas Gang Aut, Puskesmas Cipaku, Puskesmas Bogor Mengetengahkan dan Puskesmas Mekarwangi.

Wakil Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, berkata 27 tenaga medis dan pegawai puskesmas yang terpapar Covid-19.

Mereka meliputi hampir seluruh layanan kesehatan puskesmas, tiba dari dokter umum, dokter kandidat, petugas farmasi, analis, petugas pendaftaran.

Yang lain adalah sekuriti, bagian gizi, personel promosi kesehatan, petugas administrasi, pekerja, hingga petugas kebersihan.

Sehari sebelumnya, manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibabat di Tanah air Cimahi, Jawa Barat, menutup seluruh pelayanan dalam batas waktu dengan tidak ditentukan, setelah belasan karyawannya dinyatakan positif terjangkit virus corona.

“Sehubungan ada 12 karyawan dari RSUD Cibabat yang terkonfirmasi [positif Covid019], kita melakukan tracing , kontak erat dan prinsipnya Wali Kota ingin rumah sakit ini steril, tidak tersedia sumber penularan, baik sesama karyawan maupun ke pasien, ” terang direktur utama RSUD Cibabat, Reri Marliah.

“Pelayanan RSUD untuk tatkala ditutup, baik untuk rawat pekerjaan, rawat inap, maupun IGD, ” imbuhnya.

Serupa, dua puskesmas di Banda Aceh juga terpaksa menguncup layanannya akibat beberapa tenaga medis terkonfirmasi positif Covid-19, pekan lulus.

Demikian halnya yang terjadi di Puskesmas Harapan di Sentani Timur, Papua. Ketika delapan tenaga medis terinfeksi virus corona, pemerintah wilayah Kabupaten Jayapura langsung menutup layanannya selama tujuh hari pada Juni silam.

“Memang banyak petugas kesehatan kita terkena, termasuk dokter, perawat, bidan, tenaga penunjang lainnya itu langsung, baik di rumah sakit maupun puskesmas, ” jelas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, Khairul Lie.

Juru Bicara IDI, Halik Malik, menyebut di tengah tren peningkatan kasus Covid-19, tenaga medis kudu berjibaku supaya tidak terpapar virus mematikan tersebut.

“Kesulitannya karena kita juga menghindari korban Covid pada kalangn tenaga medis, karena lulus banyak laporan tenaga medis yang terpapar positif corona kemudian harus diisolasi dan dirawat, bahkan tidak sedikit yang gugur dalam penyajian Covid ini, ” ujar ujung bicara IDI, Halik Malik, pada BBC Indonesia.

Merujuk data IDI, lebih dari 150 tenaga medis meninggal akibat Covid-19. Jumlah itu terdiri dari 75 dokter, 55 perawat, 15 bidan, dan delapan dokter gigi.

Cukupkah kapasitas tempat tidur rumah sakit?

Sementara tersebut, Kementerian Kesehatan pada 7 Agustus 2020, mencatat 40, 1% sejak 37. 828 kapasitas tempat terbaring isolasi rumah sakit telah digunakan dalam penanganan pasien Covid-19.

Melihat data itu, Firdza Radiany — yang juga merupakan insiator pandemictalks , platform les terkait Covid-19— menghitung bahwa daya peraduan rumah sakit sudah diisi oleh 15. 182 pasien Covid-19.

Memikirkan di Indonesia terdapat 38. 076 pasien kasus aktif pada masa itu, artinya hanya 39, 9% yang masuk dalam kategori pasien isolasi di rumah sakit. Mengenai sisanya, yakni 22. 894 kasus aktif dikategorikan sebagai pasien isolasi mandiri.

Kasus aktif adalah pasien Covid-19 yang masih dinyatakan pasti. Cara menghitungnya adalah dengan menekan seluruh kasus positif dengan total kematian dan pasien yang segar.

“Sejak awal [pandemi] active cases (kasus aktif) kita pas konsisten di 30-40%, bayangkan belakang kalau active cases sudah sampai 200. 000, kami yakin sudah tiba jebol sih, ” ujar Firdza.

Firdza menambahkan, jika Indonesia tak ada upaya untuk menekan peristiwa aktif sampai dibawah 10% & tetap konsisten di kisaran 30-40%, dalam waktu tiga hingga enam bulan ke depan okupansi setiap provinsi akan semakin penuh.

“Saat ini baru 12 provinsi dengan [memiliki] tingkat okupansi di atas rata-rata 40%. Jangan sampai ke-34 provinsi melewati rerata 40% tersebut, ” kata dia.

Juru bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito, mengungkapkan selama beberapa keadaan terakhir kasus aktif menurun.

“Kita harus memastikan bahwa kasus aktif yang ada setiap hari harusnya makin kecil, dan kasus kesembuhannya makin besar dan kasus kematiannya makin kecil, ” kata Resi dalam konferensi pers Selasa (11/08).

Dibandingkan negara-negara lain, lanjut Wiku, kasus aktif Indonesia dibawah rata-rata kasus aktif di seluruh dunia. Tatkala kematian di Indonesia lebih mulia daripada dunia.

Adapun kasus rajin di Indonesia per Rabu (12/08) adalah 39. 017, atau 29, 8% dari total 130. 718 kasus.

Bukti Kementerian Kesehatan pada 7 Agustus 2020 pula mengungkap bahwa kapasitas tempat tidur rumah sakit pada Papua di ambang batas, yaitu 94, 3% dari total kapasitas 473 tempat tidur. Artinya, hanya 27 tempat tersedia.

Satgas Covid-19 Kabupaten Jayapura, Papua, yang sebelumnya terpaksa membuat rumah sakit penting dengan menyewa hotel karena pasien rumah sakit rujukan di kabupaten itu melebihi kapasitas, kini telah menyiapkan antisipasi jika terjadi lonjakan pasien kembali.

“Waktu pertama kita mewujudkan rumah sakit darurat dengan mengontrak hotel, tetapi w aktu itu kapasitas rumah sakit kita hanya di bawah 10 peraduan, lalu kita sudah kita upgrade menjadi 44 tempat tidur, ” ujar Khairul Lie, yang juga menjabat jadi juru bicara Satgas Covid-19 Kabupaten Jayapura.

“Kemudian kepala daerah kita memerintahkan untuk menyiapkan wisma atlet dalam Sentani, tetapi memang ada kira-kira kendala. Jadi kita mungkin menyiapkan beberapa tempat, karena di Sentani tidak punya tempat yang lulus representatif, jadi kita masih mengandalkan untuk bisa merujuk ke sendi sakit di Jayapura, ” imbuhnya kemudian.

Adapun, pakar matematika epidemiologi dari Insitut Teknologi Bandung (ITB), Nuning Nuraini, meyakini hingga zaman ini Indonesia belum mencapai pucuk gelombang wabah. Dia memperkirakan pandemi akan berlangsung hingga tahun pendahuluan.

“Saya masih percaya pada status bahwa kita belum mencapai puncak, itu yang terjadi. Kalaupun tutup tahun sudah mulai turun, itu telah bagus menurut saya, ” katanya.