Idul Adha di tengah Covid-19: Ada masjid di zona merah tentu berencana gelar salat, masyarakat dihimbau ibadah di rumah dan utamakan kesehatan

Idul Adha di tengah Covid-19: Ada masjid di zona merah tentu berencana gelar salat, masyarakat dihimbau ibadah di rumah dan utamakan kesehatan
  • Resty Woro Yuniar
  • BBC News Indonesia

Dua pola Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhamaddiyah mendukung himbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) biar salat Idul Adha berjamaah pada masjid-masjid di kawasan dalam bagian zona merah ditiadakan.

Tetapi di tengah himbauan MUI supaya salat diadakan di rumah, beberapa masjid di Jakarta – secara lima wilayah masuk kategori merah – tetap berencana menggelar salat Idul Adha berjamaah.

Robikin Emhas, Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah Pengurus Gede Nahdlatul Ulama (PBNU), mengatakan asosiasi Muslim sebaiknya mengutamakan menjaga kesehatan diri dan masyarakat, yang sifatnya wajib dalam agama Islam, ketimbang melaksanakan salat Idul Adha berjamaah yang hukumnya “sunah muakad. ”

“Bagi masyarakat Muslim yang tinggal di tempat atau wilayah yang mempunyai otoritas untuk menetapkan zona, misalnya kategori zonanya merah. Maka pantas dengan kaidah agar mendahulukan buat mencegah potensi mudharat datangnya penyakit, itu harus diutamakan daripada mengejar hal yang sifatnya sunah. Maka kita harapkan mereka menyelenggarakan doa Idul Adha di rumah, ” ujar Robikin.

Kasus positif Covid-19 di Indonesia masih terus meningkat dengan kenaikan sebanyak 2. 381 dalam 24 jam sampai Rabu (29/07) menjadi total 104. 432.

Jakarta yang masih jadi salah satu episentrum pandemi bahkan dinyatakan ‘merah semua’, lima wilayah kota Jakarta ‘berisiko tinggi’.

Pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono mengucapkan potensi kerumunan orang saat penyelenggaraan ibadah Idul Adha, baik ketika salat dan penyembelihan hewan persembahan, menciptakan “kemungkinan penularan. ”

“Sebaiknya kalau di zona merah dan oranye itu ditutup, tidak dilaksanakan salat Id dan [penyembelihan hewan] kurbannya kalau bisa tidak dihadiri oleh yang akan mendapat persembahan, dan sebaiknya diantar [ke rumah-rumah penerima] di zona oranye. Pada zona kuning dan hijau bisa dihadiri asal jaga jarak pake masker.

“Di zona merah benar berisiko besar, pasti akan menaikkan kasusnya, ” ujar Tri.

‘Masih khawatir’

Salah satu masjid yang berencana menyelenggarakan salat Idul Adha berjamaah ialah Masjid Jami Al Makmur di kawasan padat penduduk di Kebon Kacang, Jakarta Pusat. Protokol kesehatan, menrut pihak masjid, akan diterapkan seperti menyemprot masjid dengan awahama.

“Masih menggelar salat Idul Adha, kita pakai protokol kesehatan, physical distancing , menilai suhu, jamaah wajib pakai masker, bersihkan tangan dengan sabun, ” kaat Rudi, petugas sekretariat langgar, kepada BBC Indonesia melalui sambungan telpon (29/07).

“Pagi-pagi kita suntikan disinfektan dulu, kita sudah perbolehkan tanda di dalam masjid untuk saf, jaraknya satu meter- satu meter. ”

Rudi mengatakan wilayah masjidnya tidak termasuk zona merah.

“Ini sudah bukan zona merah lagi, waktu [awal pandemi] memang [zona merah], yang saya terang seperti itu. Ini kan kesimpulan pengurus, akan digelar salat Idul Adha, kita hanya menyampaikan selalu, ” ujarnya.

Pemprov DKI Jakarta memetakan 33 RW yang dikategorikan sebagai zona merah. Masjid Jami Al Makmur berada di RW 7 Kelurahan Kebon Kacang, tercatat zona kuning, namun bertetangga secara zona merah di RW enam, menurut data Pemprov DKI Jakarta.

Wiku Bakti Bawomo Adisasmito, spesialis bicara Satgas Penanganan Covid-19 mengucapkan pada Selasa (28/07), “Zonasi risiko di DKI Jakarta, lima wilayah kota semuanya risiko tinggi, daerah merah. Hanya satu yakni Kepulauan Seribu dengan risiko sedang. Tersebut harus menjadi perhatian. ”

Masjid itu, kata Rudi, ‘sudah hampir lima bulan tutup. ‘

“Baru doa Jumat [berjamaah] perut kali, sudah hampir lima kamar kita gak mengadakan salat Jumat, kita sesuaikan dengan perintah gubernur yang bilang tutup, ya kita tutup. ”

Rudi mengatakan bahwa jamaah masjid “antusias” untuk salat Idul Adha berjamaah pada Jumat (31/07).

“Ini kan salah satu masjid tertua dan bersejarah [di Jakarta], jadi antusias warga buat salat di sini memang luhur sekali, tapi kita tetap memasukkan protokol kesehatan, ” imbuhnya.

Sementara tersebut di Kemayoran, Jakarta Pusat, Suyuti, salah satu jamaah Masjid Al-Amir, mengatakan bahwa ia mendapat keterangan bahwa masjidnya ‘akan menyelenggarakan salat Idul Adha. ‘

“Pakai protokoler, pasti. [Jamaah harus] pakai masker, kalau tidak akan diusir. Pada dalam sudah diatur jarak-jaraknya, di luar [masjid] selalu ada tanda-tanda [untuk saf], ” kata pria berusia 63 tahun tersebut.

Suyuti, yang juga lupa satu pengurus sekretariat jenderal MUI Kemayoran, mengaku masih mempertimbangkan apakah akan ikut salat Idul Adha berjamaah nantinya.

“Saya sebagai jamaah haji kan masih khawatir-khawatir saja, makin sekarang [pandemi] sedang merebak, tapi asal protokoler ketat sekali tidak apa-apa, yang istimewa jangan mengabaikan protokoler kesehatan, ” ujarnya.

Pada bulan April, Langgar Al-Amir, yang terletak di Pondok Polisi Kemayoran, disebut oleh Kapolsek Kemayoran Kompol Syaiful Anwar jadi satu dari 10 masjid dengan melanggar aturan PSBB saat itu dengan menggelar salat Jumat bergandengan.

Wilayah zona hijau perlu patuhi protokol kesehatan

Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Tengah Muhammadiyah, mengatakan bahwa warga atau takmir masjid yang masih mau menyelenggarakan ibadah salat Idul Adha, khususnya di zona hijau kudu tetap memenuhi beberapa syarat, seolah-olah memiliki tempat salat yang umum agar memungkinkan jaga jarak.

“Pertama tempatnya leluasa, sehingga bisa ada social distancing atau physical distancing , dengan protokol kesehatan yang ketat. Pelaksanaannya juga tak perlu panjang-panjang, bawa sajadah sendiri, tidak bersalaman.

“Semuanya harus dicek suhunya secara seksama. Apakah bisa menjamin dalam pelaksanaan itu tidak melebihi kapasitas? Karena kita tidak bisa membatasi siapa yang bisa datang dan siapa yang tidak. Ketika sudah datang orang hendak merasa berhak untuk ibadah dalam masjid tersebut, ” ujar Haedar kepada BBC Indonesia (29/07).

Tri Yunis Miko Wahyono, epidemiolog lantaran UI, mengatakan, dalam masjid, “penularannya bisa orang ke orang saat wudhu, saat salat, saat mendengarkan kotbah. ”

Bagaimana pengawasannya ?

Dalam konvensi pers yang digelar oleh Satgas Penanganan Covid-19 pada Selasa (28/07), Asrorun Niam Sholeh, sekretaris tip fatwa Majelis Ulama Indonesia mengucapkan bahwa pelaksanaan salat Idul Adha tahun ini “sebaiknya tetap di rumah bersama keluarga” bagi umat Muslim yang tinggal di zona merah.

Hingga berita ini diturunkan, Asrorun belum menjawab pertanyaan BBC pada Rabu (29/07) soal program pengawasan MUI di lapangan kepada pelaksanaan himbauan tersebut.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan pengamalan protokol kesehatan menjadi ‘tantangan’ untuk pelaksanaan salat Idul Adha yang sehat dan aman di sedang situasi ini.

“Yang menjadi tantangannya ialah melaksanakannya. Pengetahuan [soal protokol kesehatan] ada, pelaksanaannya soal konsistensi. Oleh sebab itu kami berharap sekali bahwa di dalam pelaksanaan kurban nanti semua ketentuan dilaksanakan dengan disiplin, ” kata Anies dalam sebuah webinar tentang pelaksanaan ibadah Idul Adha, Rabu (29/07).

Anies juga mengutarakan bahwa wabah virus corona dalam Jakarta ‘masih jalan terus. ‘ Pada Rabu (29/07), Jakarta mencatatkan kenaikan kasus harian terbanyak di Indonesia–584 kasus menurut versi pemerintah provinsi DKI Jakarta, 577 menurut Satgas Penanganan Covid-19.

“Kenapa di Jakarta jumlahnya tinggi? Saya mau menyampaikan, karena Jakarta mengambil strategi mencari orang-orang yang terpapar, berarakan diisolasi, lalu diputus mata rantainya. Kalau Jakarta hanya ingin angkanya kecil, Pemprov tidak perlu mengabulkan testing. Dijamin angka Covid-19 langsung turun.

Protokol salat Idul Adha sudah dikeluarkan Kementerian Agama jauh-jauh hari, sebulan sebelum hari besar Idul Adha.

Kementerian Agama telah mengeluarkan Surat Edaran no. 18 tahun 2020 tentang penyelenggaraan salat Idul Adha tahun ini, dalam mana isinya mencakup soal perlindungan ibadah di masjid-masjid, lapangan, serta tempat salat lainnya.

Dalam aturan tersebut, penyelenggaraan salat Idul Adha berjamaah diperbolehkan dengan syarat:

  • menyiapkan petugas untuk menunggui penerapan protokol kesehatan di zona tempat pelaksanaan;
  • melakukan disinfeksi di area pengamalan;
  • membatasi jumlah pintu keluar masuk guna meremehkan penerapan dan pengawasan protokol kesehatan tubuh;
  • menyediakan fasilitas cuci tangan atau hand sanitizer ;
  • menyediakan alat pengecekan suhu di pintu atau jalur menyelundup, dan jika jamaah bersuhu pada atas 37, 5 derajat Celcius tidak diijinkan masuk area;
  • menerapkan pembatasan tenggang minimal 1 meter;
  • mempersingkat pelaksanaan salat & kotbah Idul Adha;
  • tidak menjalankan kotak infak.