Liburan di era ‘new normal’ Covid-19: Pesan sendiri dan akan bertambah banyak kunjungi kawasan pedesaan dalam negeri

Liburan di era 'new normal' Covid-19: Pesan sendiri dan akan bertambah banyak kunjungi kawasan pedesaan dalam negeri

Badan Pariwisata PBB, UNWTO, memperkirakan jumlah wisatawan internasional tarikh ini berkurang antara 850 juta hingga 1, 1 miliar karakter akibat wabah virus corona.

Berkurangnya jumlah wisatawan diperkirakan menimbulkan kerugian antara US$910 miliar hingga US$1, 2 triliun.

Pandemi membuat banyak wisatawan mengurungkan liburan, seperti warga Denmark, Arnakkuluk Kleist, dan keluarganya.

Pembatalan liburan di Prancis dan rencana menengok keluarga pada Amerika Serikat sempat membuat bani perempuannya sangat kecewa.

“Ski di Prancis dan menengok saudara di Amerika segenap dibatalkan… anak-anak sangat kecewa, ” ujar Kleist.

Dalam tengah ketidakpastian kapan pandemi bakal berakhir, banyak pihak melakukan habituasi di era yang sekarang normal disebut sebagai “new normal”.

Diharapkan, dengan adanya penyesuaian ini, orang tetap bisa liburan atau jalan-jalan dan industri pariwisata lambat laun bisa reda.

Berwisata di dalam negeri

Wabah virus corona memaksa banyak negara memerkarakan pendatang dari luar negeri untuk melakukan isolasi mandiri.

Lama isolasi biasanya kira-kira 14 hari.

Ketentuan ini biasanya tak benar bagi mereka yang berasal sebab negara dengan angka kasus rendah, atau dari negara yang dianggap sudah bisa menekan wabah.

Pembatasan berupa isolasi mandiri mendirikan berkunjung atau jalan-jalan keluar negeri tidak lagi menjadi menyenangkan.

Karena itulah Kleist kali ini memutuskan untuk berwisata di dalam negeri.

Kleist dan pasangannya berkunjung ke utama peternakan domba di Nuuk, Greenland Selatan, beberapa tahun lalu & berencana untuk kembali lagi ke sana bulan Juli ini.

Kali ini mereka berencana membawa anak-anak.

“Musim panas di Nuuk suasananya sangat berbeda. Saat berada di kian [beberapa tahun lalu] kami mengatakan kami harus membawa anak-anak ke sini suatu saat nanti, ” kata Kleist.

“Sekarang inilah saat yang tepat, ” katanya.

Dr Hayley Stainton, penulis blog dan tutor sekolah yang banyak mengajar tentang pariwisata, mengatakan sekarang ini bahkan banyak turis yang tertarik berkunjung ke pedesaan atau ke ladang-ladang pertanian.

Namun dia mengingatkan kunjungan ke wilayah pedesaan bisa berdampak negatif.

“Tak masalah jika pedesaan itu ada di negara dengan wilayah luas seperti Australia, India, atau Amerika Serikat, ” kata Stainton.

Tapi bagi negara-negara kecil seperti Inggris misalnya, kunjungan wisatawan dalam jumlah mulia ke satu pedesaan bisa mendaulat desa itu tiba-tiba menjadi sangat ramai dan sibuk.

Lonjakan pengunjung bisa menyebabkan kemacetan lalu lintas lokal.

Terlepas dari potensi dampak minus ini, sejumlah negara mendorong wisata di dalam negeri.

Pemerintah Jepang misalnya meluncurkan diskon bagi pelancong, sementara Yunani menawarkan potongan pajak bagi para karakter sektor pariwisata.

Menghadirkan suasan a tujuan wisata

Danyanita Singh, fotografer dan perupa dari New Delhi memiliki kiat sendiri dalam mengatasi pembatasan perjalanan di era ‘new normal’.

Ia ingat dalam situasi ini, banyak negara yang masih menutup bagi wisatawan asing, namun pembatasan perjalanan tidak akhir dari segala-galanya.

“Katakanlah kita ingin ke Venesia, Italia, namun itu jelas tidak dimungkinkan saat ini… mengapa kita tak menghadirkan suasana Venesia pada rumah kita? ” katanya.

“Lakukan riset tentang haluan wisata yang ingin kita kunjungi. Sekarang kita tak bisa lari, ketika saatnya nanti kita ke sana, setidaknya kita sudah memiliki lebih banyak informasi tentang daerah wisata yang kita kunjungi, ” ujar Singh.

Justin Francis, direktur Responsible Travel pada Inggris, sepakat dengan pandangan itu.

Ia mengatakan riset atau mencari informasi akan menambah wawasan.

“Kita mungkin akan mendapatkan pengalaman dengan lebih memuaskan… kita tahu tempat-tempat makan yang enak, hotel dengan bagus, pasar cenderamata [yang murah], dan sebagainya, ” kata Francis.

Ia meminta kekayaan yang dibelanjakan para wisatawan sebisa mungkin masuk ke para pemeran wisata lokal.

Dr Hayley Stainton, penulis blog wisata, mengatakan setekah lockdown berakhir, mungkin kita akan makin nyaman dan membenarkan diri jalan-jalan, tanpa harus bergantung pada paket yang ditawarkan jawatan perjalanan.

“Orang-orang bosan dengan paket perjalanan tradisional, ” kata Stainton.

“Selama lockdown kita makin banyak memakai teknologi, orang-orang lebih banyak melakukan riset, memesan tiket dan hotel secara mandiri… ke depan peristiwa seperti ini akan makin kala kita lakukan, ” kata Stainton.

Karantina wilayah membuat mobilitas manusia berkurang drastis.

Situasi ini menyebabkan tingkat polusi turun secara tajam di banyak tempat.

Minimnya aktivitas manusia membuat binatang-binatang liar leluasa berkeliaran, fenomena yang layak disambut baik.

Dr Hayley Stainton mengatakan wabah telah meningkatkan kesadaran akan pentingnya wisata yang memperhatikan kelestarian lingkungan.

Dan bagi anak Arnakkuluk Kleist, saat ini adalah saat yang ideal untuk “kembali ke alam”.

“Anak saya tak banyak tahu perkara peternakan domba… ini akan menjadi sesuatu yang menyenangkan baginya, ” kata Kleist.

“Kami duduk semeja, menggelar peta, serta menjelaskan jalan-jalan di Greenland. ”

“Kita mau naik pesawat ke sana, lalu menggunakan perahu untuk mencapai arah. Anak-anak senang sekali, ” katanya.