George Floyd: Tokoh agama kecam Trump karena ‘penyalahgunaan agama’, aksi pertunjukan terus berlanjut

George Floyd: Tokoh agama kecam Trump karena 'penyalahgunaan agama', aksi pertunjukan terus berlanjut

Keuskupan Agung Washington, DC di Amerika Serikat mengkritik keras aksi Presiden Donald Trump yang menggunakan tameng agama, seiring dengan kekacauan sipil yang terus berlanjut di negeri tersebut.

Setelah berfoto dengan memegang alkitab dalam depan gereja sehari sebelumnya, Trump mengunjungi Kuil Nasional Saint John Paul II di Washington, DC pada Selasa (02/06).

Uskup Agung Washington, Wilton D Gregory, menyebut kunjungan itu sebagai “penyalagunaan” dan manipulasi tempat Kuil Nasional Saint Paul II.

Dia pun menyebut aksi presiden tersebut “membingungkan” dan “tercela”.

Tengah itu, sutradara film Amerika yang berkulit hitam, Spike Lee, mengucapkan tanggapan Presiden Trump terhadap mair George Floyd, menunjukkan bahwa ia adalah seorang bandit yang berusaha menjadi diktator.

Lee, yang mengangkat ketidakadilan rasial di Amerika Serikat dalam film-filmnya, mengatakan warga di Amerika Serikat marah karena sistem dibentuk buat membuat mereka gagal.

Di sisi lain, kalangan penyiar, selebriti dan layanan streaming irama mematikan atau setidaknya mengubah servis mereka pada Selasa (02/06), jadi bentuk solidaritas terhadap aksi penolakan menentang pembunuhan George Floyd.

Sedangkan calon presiden dibanding Partai Demokrat, Joe Biden, menilai saingannya, Presiden Trump, yang disebutnya menggunakan krisis ini untuk menjadikan pendukungnya.

Sementara tersebut, sheriff Las Vegas mengatakan bahwa seorang petugas tewas tertembak setelah polisi berusaha membubarkan kerumunan di dalam Selasa (02/06), dan empat petugas terluka pada hari Senin (01/06).

Apa yang dikatakan para kepala agama?

Pada sebuah pernyataan menjelang kunjungan Trump ke Kuil Nasional Saint John Paul II, Uskup Agung Wilton D Gregory mengatakan itu menentang prinsip-prinsip gereja, menambahkan bahwa umat Katolik semestinya membela hak seluruh orang.

Uskup Agung tersebut juga mengutuk upaya pembubaran unjuk rasa di asing Gedung Putih sehari sebelumnya perlu Trump bisa berkunjung ke sebuah gereja, tempat ia memegang Alkitab di depan media yang sedang meliputnya.

Saint John Paul “tidak akan menoleransi penggunaan gas air mata & penghalang lainnya untuk membungkam, menyebarkan atau mengintimidasi [pendemo] demi kesempatan untuk berpose pada depan tempat ibadah, ” ujarnya.

Uskup Agung Gregory adalah orang Afrika-Amerika pertama yang memimpin keuskupan.

Adapun Kuil Saint John Paul II dikelola oleh Knights of Columbus, sebuah organisasi yang beranggotakan umat Katolik yang semuanya pria, yang melakukan lobi-lobi untuk perhatian politik konservatif.

Uskup Episkopal Washington, Mariann Budde, juga mengutuk tindakan presiden tersebut.

Sementara di Inggris, para uskup agung York dan Canterbury mengatakan kerusuhan itu mengungkap “kejahatan supremasi kulit putih yang sedang berlangsung”.

Apa yang terbaru dalam demonstrasi?

  • Setelah pusat perbelanjaan ikonik di New York, Macy dan toko-toko lainnya dijarah, Gubernur New York Andrew Cuomo menilai polisi yang disebutnya “tidak melayani tugasnya”
  • Jam suangi di New York diperpanjang maka Minggu (07/06), sementara jam malam di Philadeplhia berlaku hingga Kamis (04/06)
  • Di Chicago, dua orang dilaporkan meninggal dalam tengah demonstrasi, meskipun penyebabnya hingga kini belum jelas
  • Perintah kontroversial untuk membubarkan pengunjuk rasa dari sebuah taman depan Gedung Putih pada Senin suangi datang langsung dari Jaksa Mulia William Barr, media AS melaporkan
  • Kepala polisi dalam Louisville, Kentucky dipecat setelah petugas penegak hukum menembak ke gerombolan pada hari Minggu malam, membunuh pemilik bisnis terdekat
  • Saluran musik dan selebritas mencatat gerakan Blackout pada Selasa (02/06), menghentikan layanan musiknya sementara selama delapan menit – lamanya masa seorang petugas polisi berlutut pada leher Floyd

Bagaimana demonstrasi bermula?

Aksi demonstrasi bermula ketika rekaman video menunjukkan Floyd sedang ditangkap dan beberapa petugas polisi terus-terusan menimpa lehernya meskipun dia memohon dirinya tidak bernapas pada 25 Mei.

Salah satu penjaga, Derek Chauvin, dituntut atas pembunuhan tingkat tiga dan akan disidang pekan depan. Sementara tiga polisi lain telah dipecat.

Pada Senin (01/06) Trump menganjurkan kepada pemerintah negara bagian serta pemerintah kota untuk mengerahkan Penjaga Nasional demi menghentikan kerusuhan.

Dia mengatakan jika mereka tidak “mengambil tindakan yang diperlukan” dia akan mengerahkan tentara dan “menyelesaikan masalah itu secara cepat”.

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Apa dibalik kegaduhan ini?

Kasus Floyd telah menyalakan kembali kemarahan dengan mendalam atas pembunuhan polisi terhadap orang kulit hitam Amerika & rasisme. Kebrutalan polisi ini memerosokkan gerakan Black Lives Matter di dalam beberapa tahun terakhir.

Sebelumnya, Michael Brown di Ferguson, Missouri dan Eric Garner di New York juga menjadi korban kebrutalan polisi.

Pada 2014, Eric Garner dicekik oleh polisi karena dituduh menjajakan rokok ketengan secara ilegal dan dia terdengar berkata “Saya tak bisa bernapas” ketika polisi menahannya.

Kata-kata Garner, yang juga disebut oleh Floyd di momen terakhir hidupnya, menjelma yel-yel yang diteriakkan oleh pendukung gerakan Black Lives Matter.

Demonstrasi yang berjalan tidak hanya untuk mengekspresikan atas perlakuan terhadap Floyd, tapi serupa mengecam kekejaman polisi atas perlakuan mereka terhadap warga kulit hitam di Amerika.

Orang Afrika-Amerika lebih mungkin ditembak secara fatal oleh polisi ketimbang golongan etnis lain.

Mereka juga ditangkap karena penyalahgunaan narkoba pada tingkat yang jauh lebih tinggi ketimbang orang Amerika kulit putih, meskipun survei menunjukkan penggunaan narkoba pada kedua etnis itu sama.

Bagi banyak orang, kemarahan akan kematian Floyd juga mencerminkan frustrasi bertahun-tahun atas ketidaksetaraan dan diskriminasi sosial-ekonomi, tidak terkecuali di Minneapolis itu sendiri.

Peristiwa itu juga bermula masa pandemi virus corona tengah berlangsung, yang menurut penelitian telah secara proporsional mempengaruhi orang kulit hitam Amerika yang kehilangan pekerjaan.

Tetapi protes pula menggemakan gerakan hak sipil yang bermula lebih dari 50 tahun yang lalu. Tindakan ini dipimpin oleh Martin Luther King Jr dan berusaha untuk menantang supremasi kulit putih dan kebijakan pro segregasi yang biasa pada zaman itu.

Kerusuhan dengan sedang berlangsung adalah turbulensi rasial paling luas yang pernah dialami AS sejak King, yang lumrah sebagian besar orang Amerika sebagai MLK, ditembak mati oleh penembak jitu pada tahun 1968.