Dampak virus corona: Inggris ‘kemungkinan besar’ alami resesi, angkatan kerja bujang merasa ‘kehilangan arah’

Dampak virus corona: Inggris 'kemungkinan besar' alami resesi, angkatan kerja bujang merasa 'kehilangan arah'

Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak mengatakan “kemungkinan besar” Inggris “mengalami resesi signifikan” bersamaaan dengan rilis data yang menunjukkan perekonomian menciut 2% semasa tiga bulan pertama tahun 2020.

Dalam wawancara dengan BBC, Sunak mengatakan, “Sekarang kemungkinan besar ekonomi Inggris akan mengalami resesi tahun ini, dan kita sudah berada di tengah-tengah kondisi tersebut sekarang. ”

Ekonomi menciut 2% selama periode tiga bulan pertama tahun ini bersamaan dengan pemberlakuan karantina wilayah buat menangani pandemi virus corona.

Penciutan itu adalah laju paling cepat sejak gawat keaungan tahun 2008.

Bank sentral, The Bank of England, sebelumnya memperingatkan kalau perekonomian Inggris tahun ini sangat mungkin mengalami resesi terburuk, meskipun karantina dicabut sepenuhnya sebelum simpulan September.

Kondisi ekonomi ini semakin menambah beban dengan dipikul oleh angkatan kerja muda di Inggris.

Sebagai contoh, Jared Thomas sejatinya sudah tidak tahan lagi buat kembali bekerja sebagai pemotong pohon.

“Kehidupan seluruh orang sekarang kacau balau, ” kata pemuda berusia 26 tarikh itu.

‘Tak cakap kapan dapat kerja’

Walaupun mulai sekarang pekerja yang tak mungkin melakukan pekerjaan dari panti dibolehkan pergi ke lokasi kegiatan, Thomas belum tahu kapan para pelanggannya akan memerlukan jasanya sedang sebab mereka juga mengalami pengganggu keuangan.

“Saya benar-benar tidak tahu kapan akan tersedia permintaan lagi. Saya akan ganjil jika sudah ada pekerjaan mulia bulan atau dua bulan kelak. ”

Di waktu menganggur ini, ia berusaha membuat hari-harinya lebih menarik dengan mencoba membakar makanan enak.

Bagaimanapun ia merupakan salah mulia orang yang beruntung sebab bila kondisi pulih nanti, Thomas masih punya pekerjaan.

Tetapi tidak demikian dengan Jemma, 16, seorang warga di Fleet, sekitar 60 km dari London.

Ia diberhentikan daripada salon perawatan rambut ketika semua salon diperintahkan untuk tutup berangkat tanggal 23 Maret padahal ia masih magang.

Karenanya, Jemma belum mengantongi sertifikat & itu membuatnya “patah semangat”.

Peluang untuk mendapatkan pekerjaan masa karantina dicabut nanti amat kecil, sebab para pemilik akan berperan menghidupkan kembali bisnis mereka.

“Mereka akan terfokus di upaya mengembangkan salon, mereka tak akan punya waktu mengajari orang-orang baru, ” kata Jemma pada program BBC Newsbeat.

“Saya tidak tahu kudu berbuat apalagi, “ungkapnya.

Angkatan kerja muda sewajarnya merasa “begitu kehilangan arah” bahkan setelah virus mereda sehingga ia mengkhawatirkan kondisi kesehatan mentalnya & sesama pencari kerja.

Diperkirakan akan ada lebih daripada satu juta pekerja muda dengan menganggur, jika tingkat pengangguran pada Inggris meningkat dari angka saat ini 4% ke menjadi 10%, patuh lembaga pemikir Resolution Foundation.

Bagi golongan pekerja bujang dengan keterampilan rendah, peluang untuk mendapatkan pekerjaan diyakini berkurang sepertiganya.

Untuk mereka yang baru lulus, peluang memperoleh pekerjaan turun 13%.

Oleh karena itu, kata penyelidik di Resolution Foundation, Kathleen Henehan, banyak lulusan sekolah tinggi “mengambil order yang lebih rendah” di zona retail, perhotelan dan industri turisme ketika terjadi krisis keuangan dengan lalu.

Penerapan karantina di Inggris mulai dilonggarkan pekan ini, khusus untuk wilayah England karena tiga wilayah lain; Wales, Skotlandia dan Irlandia Utara mempertahankan karantina masing-masing.

Sebagian warga yang tidak bisa berfungsi dari rumah, mulai Rabu itu (13/05) boleh kembali tempat kerja

GEJALA dan PENANGANAN: Covid-19: Demam dan batuk kering tetap menerus

TIPS TERLINDUNG DARI COVID-19: Dari cuci lengah sampai jaga jarak

PETA dan INFOGRAFIS: Gambaran pasien yang terinfeksi, meninggal dan sembuh di Indonesia dan dunia

VAKSIN: Seberapa lekas vaksin Covid-19 tersedia?

IKUTI LAPORAN KHUSUS TERPAUT VIRUS CORONA