Virus corona: Wuhan menyusun rencana buat mengetes seluruh penduduknya yang berjumlah 11 juta orang

Virus corona: Wuhan menyusun rencana buat mengetes seluruh penduduknya yang berjumlah 11 juta orang

Pemerintah Praja Wuhan, China, menyusun rencana buat melakukan tes massal Covid-19 terhadap 11 juta penduduknya, lapor media pemerintah setempat.

Rencana itu dilaporkan masih berharta pada tahap awal. Menurut tulisan kabar The Paper yang mengutip sejumlah dokumen, setiap distrik pada Wuhan diperintahkan untuk merancang program pengetesan dalam waktu 10 hari, paling lambat Selasa ini (12/05).

Setiap provinsi diharuskan membuat rencana masing-masing bertemu dengan jumlah penduduk dan bersandar pada apakah sekarang muncul kejadian baru di wilayah itu.

Dokumen yang beredar menyebut rencana pengetesan massal itu sebagai “pertempuran selama 10 hari”. Disebutkan warga usia lanjut dan perkampungan padat harus didahulukan dalam pengetesan itu.

Namun sejumlah pejabat yang dikutip surat kabar Ijmal Times mengisyaratkan bahwa pengetesan rasio besar di seluruh kota mau memakan biaya besar dan tidak mungkin dilakukan.

Kasus baru Covid-19

Rencana ini muncul setelah Wuhan melaporkan enam kasus baru padahal kota itu tidak mengalami infeksi baru sejak 3 April.

Kasus baru di Wuhan itu masuk dalam data negeri China yang menyebutkan ada 17 kasus baru Covid-19 pada Senin (11/05), menandai kenaikan harian sempurna sejak 28 April lalu,.

Padahal, pekan lalu, biro berita Xinhua melaporkan tidak ada kasus positif Covid-19 di seluruh Provinsi Hubei, termasuk ibu kotanya, Wuhan, selama 32 hari.

Atas dasar tersebut, berbagai sekolah di Wuhan, Daerah Hubei, China, kembali beraktivitas, baik terbatas untuk siswa kelas 9 dan 12 yang bakal bertemu ujian akhir jelang musim panas mendatang.

Keberadaan kasus-kasus baru, seperti dilaporkan kantor berita AFP , membangun kekhawatiran adanya gelombang baru penyebaran virus di kota Shulan di Provinsi Jilin.

Sebanyak 11 kasus baru muncul di Shulan sehingga pemerintah China memutuskan untuk memberlakukan karantina wilayah ataupun lockdown di kota itu.

Validitas data dipertanyakan

Kasus-kasus ini terkait dengan seorang perempuan yang bekerja di binatu. Perempuan berusia 45 tahun itu menularkan virus ke suaminya, adik-adiknya, dan beberapa kerabat.

Shulan berada dekat perbatasan Korea Utara, yang mengklaim tidak mengatasi satu pun kasus Covid-19.

Secara keseluruhan, China terus mengalami penurunan jumlah infeksi perdana virus corona. Ada 12 urusan tanpa gejala dan tidak ada kematian baru.

Jumlah mutlak kasus virus corona yang dikonfirmasi saat ini di China sudah mencapai 82. 918. Adapun jumlah korban meninggal di negara itu yang tercatat tetap 4. 633.

Sejumlah negeri, seperti AS, sebelumnya mempertanyakan dasar data yang dibuka oleh pemerintah China.

AS serupa menuding bahwa virus corona berpangkal dari sebuah laboratorium di Wuhan, China, meski intelijen AS sebelumnya menegaskan virus itu bukanlah tiruan manusia.

Semenjak kebijaksanaan lockdown dilonggarkan, sekitar 85 juta warga China berbondong-bondong pergi ke lokasi-lokasi wisata utama di negara tersebut dalam tiga hari pertama liburan Hari Buruh (May Day), dengan berlangsung lima hari, dimulai Jumat lalu (01/05).

Dilansir dari kantor berita Reuters , lonjakan pariwisata itu didominasi peningkatan jumlah pelancong sebab Wuhan, Beijing, Dalian, Tianjin, dan Jinan, menyusul aturan karantina daerah yang dilonggarkan karena menurunnya nilai Covid-19 di China.

Ratusan tempat wisata juga telah dibuka kembali, termasuk di Kota Terlarang di Beijing.

Bervariasi sekolah di Wuhan, Provinsi Hubei, China, kembali beraktivitas, Rabu (06/05).

Aktivitas itu berlangsung setelah kota yang disebut sebagai tempat asal-muasal virus corona itu mengklaim bebas kasus Covid-19 selama 32 hari terakhir.

Meski begitu, aktivitas sekolah-sekolah tersebut dikhususkan untuk siswa kelas 9 dan 12 yang bakal menghadapi ujian akhir jelang musim panas mendatang.

Bagi pelajar kelas 12, ujian simpulan itu akan menentukan universitas dengan bisa masuki pada jenjang perguruan tinggi.

Merujuk laporan kantor berita Xinhua , total pelajar yang kembali bersekolah di Wuhan mencapai 57. 000 orang.

Di luar Wuhan, mayoritas pelajar kelas 12 lebih dulu kembali ke sekolah sejak awal Maret lalu.

Di seluruh Provinsi Hubei, pada setiap pelajar wajib menjalani tes virus corona sebelum diizinkan mengikuti kesibukan belajar-mengajar.

Sementara pihak sekolah diwajibkan menjalankan protokol kesehatan seperti jaga jarak di kelas dan kantin.

Akhirnya, pemerintah China mengendorkan berbagai penyekatan sosial untuk mengembalikan situasi ke kondisi normal.

Dalam Korea Selatan, kekhawatiran akan aliran kedua telah mendorong pembatasan mutakhir, setelah serangkaian transmisi baru terkait dengan distrik kehidupan malam Seoul.